Jumat, 25 November 2022

Mulai dari Hal Sederhana

Acapkali kita berpikir terlalu rumit tentang suatu hal. Hal tersebut akan memengaruhi tindakan yang akan dilakukan. Pola pikir yang demikian akan menghambat energi positif yang dimiliki personal. Oleh karena itu, kita sebagai guru terlebih Calon Guru Penggerak (CGP) harus memulai dari hal yang sederhana agar energi positif dapat tersalurkan melalui tindakan-tindakan positif. Tindakan-tindakan positif tersebut akan mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid. 

Apa hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai CGP? Keterlibatan dalam kegiatan pembiasaan yang sudah dilakukan di sekolah adalah budaya positif meskipun terlihat biasa. Pembiasaan tersebut di antaranya penyambutan murid di gerbang sekolah, giat jasmani, upacara, literasi, Jumat taqwa, dan Jumat bersih.  Semua hal tersebut adalah hal yang biasa dilakukan oleh setiap sekolah, tetapi itulah yang akan mengonstruksi karakter murid-murid. Bukankah tugas kita menebalkan kodrat alam positif dan menyamarkan yang negatif mereka? 

CGP mempunyai tanggung jawab untuk mengejawantahkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan dan menyelaraskan kerja otak. Tentu hal ini bukanlah sesuatu yang sederhana, tetapi kita bisa mulai dari hal yang sederhana. 


Minggu, 28 Agustus 2022

Jawaban Post-Test Modul Merdeka Belajar 2 dan 5 Pelatihan Mandiri di Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan Jawaban Modul Lainnya pada PMM

I. Jawaban Post-Test Modul Merdeka Belajar 2 Pelatihan Mandiri PMM

1. D
2. A
3. B
4. A
5. B
6. C
7. B
8. D
9. D
10. C
11. C
12. B

II. Jawaban Post-Test Modul Merdeka Belajar 5 Pelatihan Mandiri PMM

1. B
2. D
3. A
4. D
5. A
6. A
7. B
8. D

III. Jawaban Modul Kurikulum

Soal 1

Kurikulum dapat dimaknai sebagai segala sesuatu yang dipelajari murid.
A

Benar


Soal 2

Dalam mewujudkan pembelajaran yang transformatif pada projek pembelajaran yang akan dilakukan, Bu Monik mendorong murid untuk membuat aksi nyata dalam isu sosial yang terjadi di sekitarnya berkaitan dengan materi yang mereka pelajari. Agar murid melakukan aksi dengan tepat, Bu Monik sebaiknya terlebih dahulu mengajak murid untuk melakukan hal-hal berikut, kecuali…. 
A

meminta murid mengevaluasi aksi yang telah dilakukan


Soal 3

Pernyataan yang tepat mengenai perubahan kurikulum adalah…
C

Kurikulum diubah untuk memenuhi kebutuhan murid terhadap perubahan zaman


Soal 4

Sebagai salah satu kepala sekolah di daerah tertinggal, Bu Solihat mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kunjungan ke sebuah sekolah di luar negeri. Beliau melihat materi pelajaran di sana lebih tinggi daripada di Indonesia. Beliau berkesimpulan bahwa negara tersebut bisa jauh lebih maju dari Indonesia karena materi pembelajarannya lebih tinggi. Saat kembali ke sekolahnya, Bu Solihat menyampaikan hal tersebut kepada seluruh guru dan meminta guru untuk menaikkan level materi pembelajaran yang diberikan kepada murid. Ia berharap murid-muridnya akan dapat lebih maju dan bersaing dengan murid dari sekolah lain. Pendapat yang tepat mengenai hal yang dilakukan oleh Bu Solihat di atas adalah….
D

Hal tersebut dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan karakter dan kebutuhan murid


Soal 5

Alasan utama mengapa sekolah perlu melakukan adaptasi terhadap kurikulum dari pemerintah adalah ….
B

setiap satuan pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda


Soal 6

Bu Sondang mengajar di sebuah sekolah di daerah pegunungan dan perkebunan. Murid di kelasnya sedang mempelajari berbagai cara pengawetan makanan. Pada buku paket, Bu Sondang mendapati latihan yang harus dikerjakan murid adalah melakukan pengawetan ikan dengan penggaraman. Hal yang sebaiknya dilakukan Bu Sondang adalah….
D

mengajak murid untuk melakukan berbagai teknik pengawetan buah atau sayuran yang ada di daerahnya


Soal 7

Berikut yang merupakan hal-hal unik yang dimiliki sekolah atau yang disebut karakteristik satuan pendidikan adalah...
D

Semua benar

Soal 8
Berdasarkan hasil analisis diagnostik dan survey karakter, didapatkan bahwa murid SMP Merdeka Belajar secara umum memiliki karakter sebagai berikut: berasal dari keluarga petani dengan ekonomi menengah ke bawah memilih untuk bekerja atau menikah dibandingkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi memiliki gawai dengan spesifikasi terbatas memiliki ketertarikan dan potensi pada bidang seni dan olah raga hal berikut dapat dilakukan sekolah dalam rangka mengakomodasi kebutuhan murid dalam kurikulum di sekolah berdasarkan informasi di atas, kecuali....
A

mengadakan ekstrakurikuler dalam bidang seni dan olah raga sesuai minat dan sumber daya yang ada. 


IV. Jawaban Modul Kurikulum Merdeka

Soal 1

Kurikulum dapat dimaknai sebagai segala sesuatu yang dipelajari murid.
A

Benar


Soal 2

Dalam mewujudkan pembelajaran yang transformatif pada projek pembelajaran yang akan dilakukan, Bu Monik mendorong murid untuk membuat aksi nyata dalam isu sosial yang terjadi di sekitarnya berkaitan dengan materi yang mereka pelajari. Agar murid melakukan aksi dengan tepat, Bu Monik sebaiknya terlebih dahulu mengajak murid untuk melakukan hal-hal berikut, kecuali…. 
A

meminta murid mengevaluasi aksi yang telah dilakukan


Soal 3

Pernyataan yang tepat mengenai perubahan kurikulum adalah…
C

Kurikulum diubah untuk memenuhi kebutuhan murid terhadap perubahan zaman


Soal 4

Sebagai salah satu kepala sekolah di daerah tertinggal, Bu Solihat mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kunjungan ke sebuah sekolah di luar negeri. Beliau melihat materi pelajaran di sana lebih tinggi daripada di Indonesia. Beliau berkesimpulan bahwa negara tersebut bisa jauh lebih maju dari Indonesia karena materi pembelajarannya lebih tinggi. Saat kembali ke sekolahnya, Bu Solihat menyampaikan hal tersebut kepada seluruh guru dan meminta guru untuk menaikkan level materi pembelajaran yang diberikan kepada murid. Ia berharap murid-muridnya akan dapat lebih maju dan bersaing dengan murid dari sekolah lain. Pendapat yang tepat mengenai hal yang dilakukan oleh Bu Solihat di atas adalah….
D

Hal tersebut dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan karakter dan kebutuhan murid


Soal 5

Alasan utama mengapa sekolah perlu melakukan adaptasi terhadap kurikulum dari pemerintah adalah ….
B

setiap satuan pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda


Soal 6

Bu Sondang mengajar di sebuah sekolah di daerah pegunungan dan perkebunan. Murid di kelasnya sedang mempelajari berbagai cara pengawetan makanan. Pada buku paket, Bu Sondang mendapati latihan yang harus dikerjakan murid adalah melakukan pengawetan ikan dengan penggaraman. Hal yang sebaiknya dilakukan Bu Sondang adalah….
D

mengajak murid untuk melakukan berbagai teknik pengawetan buah atau sayuran yang ada di daerahnya


Soal 7

Berikut yang merupakan hal-hal unik yang dimiliki sekolah atau yang disebut karakteristik satuan pendidikan adalah...
D

Semua benar


Soal 8

Berdasarkan hasil analisis diagnostik dan survey karakter, didapatkan bahwa murid SMP Merdeka Belajar secara umum memiliki karakter sebagai berikut: berasal dari keluarga petani dengan ekonomi menengah ke bawah memilih untuk bekerja atau menikah dibandingkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi memiliki gawai dengan spesifikasi terbatas memiliki ketertarikan dan potensi pada bidang seni dan olah raga hal berikut dapat dilakukan sekolah dalam rangka mengakomodasi kebutuhan murid dalam kurikulum di sekolah berdasarkan informasi di atas, kecuali....
A

mengadakan ekstrakurikuler dalam bidang seni dan olah raga sesuai minat dan sumber daya yang ada

Topik Pelajar Pancasila Modul 2

Soal 1

Pelajar Indonesia adalah pelajar beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Keimanan dan ketakwaan ini terejawantahkan dalam akhlaknya yang mulia kepada…

D

Soal 2

Pada Dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, Elemen yang menguatkan hubungan murid dengan Tuhan Yang Maha Esa adalah elemen…

A

Soal 3

Berikut adalah contoh mengintegrasikan elemen akhlak pribadi dalam pembelajaran di kelas, kecuali…

C

Soal 4

Pak Zamrud adalah guru Sejarah XII. Saat belajar tentang perang Dunia II, ia mengajak murid untuk mempelajari sejarah dari 2 sisi. Pak Zamrud membagi murid ke dalam 2 blok, yaitu Blok Sekutu dan Blok Poros. Setiap blok mempelajari sejarah dari sudut pandangnya masing-masing untuk kemudian disampaikan kepada blok lain. Praktik yang dilakukan Pak Zamrud melatih murid untuk menguatkan elemen…

B

Soal 5

Elemen akhlak kepada alam dintegrasikan dalam pembelajaran pada kelompok mata pelajaran IPA. Pertanyaan di atas adalah...

B



Minggu, 21 Agustus 2022

Kegiatan Literi SMP Negeri 31 Kota Bekasi: Mempertajam Intuisi

Langkah pertama yang harus dilakukan sebelum menulis adalah mempertajam intuisi. Cara mempertajam intuisi bisa dilakukan dengan membaca berbagai referensi baik dari media cetak maupun media daring. Dengan membaca informasi, diharapkan kosakata seseorang dapat bertambah, begitu juga dengan pengetahuannya. Cara kedua untuk mempertajam intuisi adalah dengan memperhatikan lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar dengan aneka ragam makhluk dan benda di dalamnya dapat kita perhatikan dan selami agar intuisi dapat terasah. Kedua hal tersebut jika dilakukan akan memperkaya pengalaman batin kita. Masih ingat dengan ungkapan, diri kita adalah sumber penciptaan karya yang tidak pernah habis. 

Oleh karena itu, pada kegiatan literasi SMP Negeri 31Kota Bekasi (22/08), Pembina Literasi, Iis Nia Daniar, Gr., S.S., M.Pd. mengajak para siswa untuk mempertajam intuisi. Hal tersebut bertujuan agar hasil karya para siswa baik berupa tulisan maupun gambar dapat lebih ekspresif.

 Dengan cara seperti itu juga diharapkan pembelajaran tentang sastra dan kesusastraan pada fase D di era kurikulum merdeka belajar dapat lebih mudah pengejawantahannya. Beberapa guru yang kesulitan dalam menyampaikan materi yang berkaitan dengan karya, khususnya sastra dan karya berupa ilustrasi, dapat lebih mudah untuk membuat penugasan berupa projek. 

Kamis, 06 Mei 2021

SELESAI SEBELUM USAI

Sesudah gaung Illahi,

 Porak mementas

Genderang meracau

Darah mendidih

Wajah blingsatan

Jantug berlari 

 

Air belum sampai ke kerongkongan

Kenduri usai

 

Sesukamu seperih

Seperihmu semati

Semogamu sesukar

 

Senyap merayap 

Hampa merajam

mengulang layar sesepi

 

7 Mei 2021

 



Jumat, 29 Mei 2020

Covid-19: Masyarakat Bandel?


Oleh: Iis Nia Daniar, S.S., M.Pd., Gr.
Di awal penyebaran virus covid-19, pemberitaan luar negeri menyebut bahwa pemerintah lambat bahkan ada yang merasiokan angka sebenarnya kasus covid-19 yang terjadi di Indonesia seolah tidak percaya dengan data yang sudah dipublikasikan. Itu sah-sah saja karena dalam demokrasi, Indonesia sangat menghormati kebebasan berpendapat. Kalau diamati, kritikan-kritikan dari luar, sangat bermanfaat bagi pengambilan kebijakan dalam usaha menangani kasus virus tersebut. 
Banyak hal yang sudah dilakukan pemerintah setempat untuk meminimalkan penyebaran virus covid-19 ini. Langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah setempat di antaranya adalah menyosialisasikan cuci tangan, jaga jarak (social distancing), karantina wilayah, hingga PSBB. Namun, semua hal tersebut tampaknya tidak berpengaruh bagi sebagian besar masyarakat sehingga menyebabkan penyebaran virus tidak terlalu terkendali. Kasus covid-19 yang tercatat sampai Kamis, 14 Mei 2020 berjumlah 16.006, itu adalah angka yang masih besar, walaupun kecil bila dibandingkan dengan Amerika. (https://ternate.tribunnews.com/2000-per-14-mei-2000). 
Mengapa dikatakan bahwa langkah-langkah yang diambil dalam penanganan virus tidak terlalu berpengaruh bagi sebagian masyarakat? Realitas yang ada pada salah satu kota di Jawa Barat yang termasuk daerah zona merah masih banyak masyarakat yang melakukan aktivitas seperti biasa walaupun beberapa fasilitas umum diperketat bahkan ditutup. Masyarakat tetap berkumpul bahkan sepengetahuan pihak RT/RW baik hanya sekadar kongkow-kongkow, maupun melakukan ibadah bersama. Bukan hanya itu, bulan Ramadhan biasanya masyarakat melakukan  ngabuburit, aktivitas tersebut tetap berlangsung walaupun di tengah pandemi saat ini. Mereka seolah tidak takut dengan covid -19. Padahal virus tersebut bisa saja mengancam orang-orang yang dicintaiya termasuk jiwa mereka sendiri. 

Dokumentasi Pribadi
Pemerintah setempat memang sudah mengimbau secara mobile ke pelosok-pelosok daerah untuk menggunakan masker, bahkan kebijakan melengkapi petugas dengan bambu dalam upaya mengontrol masyarakat yang masih “bandel”, tetapi agaknya langkah-langkah yang sudah dilakukan masih belum bisa “memenjarakan” keinginan sebagian masyarakat untuk berkumpul atau hanya sekadar “cari angin”. Apa yang sebenarnya terjadi?
Dari segi kodrat manusia adalah homo fabulans, yaitu manusia yang menyukai cerita. Jadi, sangat wajar jika masyarakat masih tetap berkumpul dan berinteraksi secara dekat. 
Kekhawatiran masyarakat terhadap virus covid -19 tidak terlalu kuat karena melihat “kanan-kiri”. Yang dimaksud melihat “kanan-kiri”  adalah masyarakat yang hidup di era 4.O saat ini menyerap banyak informasi seperti berita masuknya TKA asal Cina, masih ada pabrik yang beroperasi, beda istilah antara mudik dan pulkam, sampai dengan ASN dan non-ASN yang tidak lagi WFH (Working From Home). Mereka seolah terstimulus dengan berita yang ada. Hal tersebut terjadi karena sebagian masyarakat hanya membaca teks berdasarkan teks, bukan teks berdasarkan konteks dan koteks. Namun, hal ini pun bukan kesalahan mereka sepenuhnya karena aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup lebih besar dibandingkan dengan aktivitas berliterasi. Sebagian masyarakat baik masyarakat dengan tingkat pendidikan yang lumayan tinggi, maupun masyarakat awam hanya tidak siap menerima laju informasi yang deras. Ketidaksiapan menyambut informasi ini boleh jadi disebabkan oleh minat literasi yang hanya 50%. Jadi, mereka membaca  teks, tetapi tidak secara keseluruhan karena sudah datang informasi berikutnya sehingga informasi yang didapat bertumpuk dan sulit mendapatkan inti dari teks-teks tersebut.
Selain yang diungkapkan di atas, hal yang terjadi adalah berkaitan dengan “perut”. Sudah menjadi ungkapan umum orang bisa melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan perut. Hal inilah yang terjadi pada masyarakat nonpegawai tetap. Mereka bukan berarti tidak takut tertular atau menularkan virus pandemi ini, melainkan mereka harus bertahan hidup juga dengan mengisi perut. Memang ada bantuan dari pemerintah setempat, tetapi lagi-lagi bayak kasus yang terjadi perihal bantuan ini sehingga bukanlah kesalahan masyarakat juga untuk tidak mengikuti aturan berkaitan dengan kebijakan-kebijakan yang sudah diambil.

Dokumentasi Pribadi
Hal-hal tersebut menjadi dilematis bagi pemerintah yang ingin melindungi masyarakatnya. Mungkin kebijakan penanganan covid-19 ini harus menggunakan berbagai macam pendekatan, khususnya ekonomi. Selain itu pengetahuan masyarakat tentang virus pandemi harus lebih gencar lagi dipublikasikan dengan retorika yang pas agar kesadaran melindungi diri sendiri dan keluarga dapat tumbuh.