Oleh: Iis Nia Daniar, S.S., M.Pd.
Oleh: Iis Nia Daniar, S.S., M.Pd.
Oleh: Iis Nia Daniar
Bekasi sebagai satu di antara daerah tujuan urban merupakan faktor yang harus diwaspadai dalam perkembangan bahasa daerah Bekasi. Akulturasi antara bahasa dan budaya baik daerah Bekasi maupun daerah para pendatang, tidak menutup kemungkinan lenyapnya bahasa Bekasi yang menjadi ciri khas daerah itu sendiri dalam interaksi dan komunikasi sosial masyarakatnya. Oleh karena itu, diperlukan pengajian bahasa Bekasi secara intensif yang bisa dikonsumsi publik, khususnya masyarakat yang berada di daerah Kota dan Kabupaten Bekasi sebagai tindakan preventif dan representatif dari pelestarian bahasa Bekasi.
Bahasa adalah sebuah sistem yang diciptakan secara arbitrer dan berdasarkan konvensi (Chaer, 1994:33). Demikian juga dengan bahasa Bekasi, bahasa Bekasi memiliki sistem yang berbeda dengan bahasa lainnya karena dibuat secara manasuka berdasarkan perjanjian penutur aslinya (native speaker).
Berikut contoh kosakata bahasa Bekasi dan penggunaannya dalam kalimat. Gaplok, gampar ‘tampar’, deprok ‘duduk di bawah’, bledug ‘bunyi ledakan kompor’, keprok ‘tepuk tangan’, jingkrak ‘melompat-lompat’, nguyup ‘minum langsung dari tempat tanpa sedotan’, ciplak ‘mengunyah’, bangkis ‘bersin’, kepret ‘menampar dengan menggunakan punggung tangan’, ngocor ‘bunyi air yang keluar’, ngorok ‘ mendengkur’, keketok ‘suara ayam sebelum dan sesudah bertelur’, berebet ‘suara kain robek, angob ‘menguap karena mengantuk’, teblag ‘dipukul bagian punggung dari arah belakang’. Contoh kalimat: (1)Bocah digaplok ama temennya. (2)Emak-emak padadeprok di bawah.(3)Kompornya ngebledug. (4)Orang-orang padakeprok abis nonton topeng. (5)Indun jingkrak kegirangan.(6)Kopi panas diuyup.(7)Si Usin makannya ciplak. (8)Abis keujanan, Darmaji bebangkis bae. (9)Gua kepret luh! (10)Aer ngocor dari setadi. (11)Waya ginih masih ngorok. (12)Ayam keketok bae di kandang. (13)Kaen Pak Aji berebet pas di langgar.(14)Burhan angob bae. (15)Bocah bader banget, gua teblag bae belakangnya.
Kata gaplok, deprok, bledug, keprok, jingkrak, nguyup, ciplak, bangkis, kepret, ngocor, ngorok, keketok, berebet, angob, dan teblag yang diejawantahkan dalam kalimat-kalimat di atas adalah bentuk onomatope. Onomatope/ono·ma·to·pe/ /onomatopĂ©/ n kata tiruan bunyi, misalnya "kokok" merupakan tiruan bunyi ayam, "cicit" merupakan tiruan bunyi tikus (http://kbbi.web.id/). Hal tersebut sama seperti yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Kata onomatope digunakan pada kalimat aktif intransitif, contoh: (1)Kucing mengeong. Anjing menggonggong; (2)Kuda meringkik. Namun, penggunaan kata beronomatope dalam bahasa daerah, khususnya bahasa Bekasi lebih kaya. Oleh karena itu, marilah kita lestarikan bahasa daerah, khususnya bahasa Bekasi sebagai satu di antara kekayaan budaya Indonesia.
Akulturasi Mesra antara Bahasa Sunda dan Bahasa Bekasi
Oleh: Iis Nia Daniar
Jika dilihat dari sejarah wilayah Bekasi, sebelum tahun 1949 Bekasi masuk ke wilayah Provinsi Jakarta, dan pada tahun 1950 berdasarkan Undang-Undang No.14 Tahun 1950 Bekasi masuk wilayah Provinsi Jawa Barat. Faktanya Bekasi secara administratif pemerintahan baik kota, maupun kabupaten berada di wilayah Provinsi Jawa Barat didominasi oleh budaya Sunda. Kondisi ini semakin memosisikan bahasa Melayu Bekasi menjadi amat penting keberadaannya sebagai bagian interaksi budaya dan bahasa yang berkembang di Jawa Barat. (Ensiklopedia Bekasi,)
Kemiripan bahasa Bekasi dengan bahasa Sunda sebagai akibat akulturasi bahasa ini merupakan kondisi nyata dan menarik untuk dilakukan penelitian kebahasaan secara lebih cermat dan mendalam. Akulturasi adalah suatu pencampuran atau persatuan dua budaya yang masih mempertahankan cirinya masing-masing. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia:
“ akulturasi akul·tu·ra·si/ n 1 percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi: candi-candi yang ada sekarang merupakan bukti adanya -- antara kebudayaan Indonesia dan kebudayaan India; 2 Antr proses masuknya pengaruh kebudayaan asing dalam suatu masyarakat, sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, dan sebagian berusaha menolak pengaruh itu; 3 Ling proses atau hasil pertemuan kebudayaan atau bahasa di antara anggota dua masyarakat bahasa, ditandai oleh peminjaman atau bilingualisme.”
Akulturasi antara bahasa Sunda dan bahasa Bekasi perwujudannya sebagai berikut.
kata bahasa Sunda yang memiliki makna sama dengan bahasa Bekasi secara keseluruhan tanpa mengubah lafal atau ejaan, contoh: awak, bae, bejad, cekel, gebah, pinter, udag, getol, gaplok, dan lain-lain.
Kata dalam bahasa Sunda ejaan atau cara penulisannya hampir sama dengan bahasa Bekasi. Kondisi kata tersebut dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
kata dasar, contoh: dingke dan kata dasar jengke
kata ulang (reduplikasi), contoh: tetaekan dan kata tataekan (dwipurwa), deg-degan dan kata dag-dig-dug (trilingga)
kata berimbuhan, contoh: begawe dan kata digawe, gegerawakan dan kata gogorowokan.
Dengan demikian, jika dilihat dari perwujudan kata di atas, dapat dikatakan antara bahasa Bekasi dan bahasa Sunda menjalin hubungan yang mesra. Entah siapa memengaruhi siapa, kenyataan menunjukkan demikian.