Tampilkan postingan dengan label puisi bentuk prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi bentuk prosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2016

Kisah Penjaja Kemesraan Sesaat

Di Balik Kali Jodoh, Jakarta

"Mampir, Mas!" Lembut ucap santun laku para penjaja kemesraan sesaat di warung remang-remang yang berjajar sepanjang bantaran kali.

Kumandang adzan isya memanggil mengalun syahdu terkalahkan dengan irama pantura yang mengalun merayu.

Bak bidadari alih profesi cumbu rayu sambil duduk di pangkuan pelanggan penikmat, penjaja asyik bersenda.

Lentik jemari halus asyik menyentuh pori dan menuangkan bergelas-gelas air kencing setan.
Bibir penuh bergincu merona sibuk  terbahak sambil mengepulkan asap kretek; sesekali mendaratkan kecupan mesra, tapi hambar.

"Sampai kapan?" Tanya itu acapkali digulirkan meski dalam canda.

"Yah, mungkin sampai para penikmatku pergi satu per satu hingga akhirnya 0." Terkadang terlontar di saat lengang jauh di ujung malam sambil mengelap tetesan yang masih tersisa diselingi gurau dan tawa. Namun, masih tetap terasa hambar.

"Sampai kita terkena AIDS dan mati muda seperti si Ice alias Sumarti,  Elsya alias Titin, atau Kristin alias Zaenab." Celutuk seorang penjaja yang masih asyik mengepul-ngepulkan puntung asap kretek.

Semua terdiam, hening sambil saling menatap. Adzan shubuh memanggil umat disambut kokok jantan dan rintik hujan, merekapun terlelap dalam warung remang yang berangsur berhenti berpesta.

Lanjutan Antara Setia dan Berahi

Lanjutan: Antara Setia dan Birahi

Anjani masih menangisi nasibnya sampai malam-malam berikutnya, dan itu sudah berlangsung 3 purnama. Tubuhnya yang dulu berisi kini sudah tulang berbalut kulit. Airmatanya sudah kerontang hingga yang ada hanya tatapan kosong mengiringi suara tangisnya. Kedua kakinya terpasung. Aroma bunga melati dari tubuhnya telah berubah menjadi aroma bunga bangkai.

"Jaka, bilakah kaudengar tangisku." Hati Anjani berbisik.

"Tahukah engkau pujaan hatiku, kini aku terpasung karena cinta semumu?" Guratan-guratan di wajahnya memancarkan konflik batin yang mendalam.

"Hadirmu meluluhlantakkan segala keyakinanku tentang kesetiaan dan pengorbanan tanpa batas akan berbuah sorgaloka." Berteriak keras Anjani dalam klimaks kekalutannya.

Sementara Jaka masih bergumung dengan siksa dan penjaranya karena egonya mempertahankan kasih dengan Anjani, sedangkan keduanya sudah taklagi lajang. Derita yang dia alami takpernah sampai ke telinga Anjani, sebaliknya Jaka pun demikian, Anjani yang sudah lari kesadarannya takpernah Jaka ketahui.

Hanya malam, angin, bulan, serta bintang gemintang ramai saling bercerita tentang kisah sepasang kekasih ini yang terpikat karena aksara awalnya. Namun, Anjani dan Jaka tetap takbergeming di ruang gelap menebus dosa cintanya entah sampai kapan.

Bekasi, 24 Januari 2016

Ketika Harus Memilih

Monolog: Ketika Harus Memilih

Pejam ingin lebih awal, tapi kelopak takmau juga merapat.
Raga ingin tetirah, ruhku masih melayang.

"Apa kupenggal hasrat?"
"Apa kuperbaiki perapian milikku yang apinya semakin hari semakin mendingin?" Bisik hatiku perlahan karena takut mengganggu cicak yang sedang asyik bercumbu di atas plapon langit-langit kamar dengan pasangannya.

"Harusnya kata SETIA itu kupegang sampai tubuhku membeku."
"Harusnya kubiarkan belati menusuk jantungku agar dapat dia melihat kalau di batas antara serambi kanan dan serambi kiri masih kusimpan namanya."
"Harusnya aku ucapkan, 'Sayang, dadaku panas menyaksikan kau-asyik dengan duniamu!', lukaku bukan karenanya, tapi karena aku yang sudah tersesatkan dengan indahnya semu." Bersimpuh kudalam lembaran masa.

Membela diri untuk menutupi kebodohan. Menyendiri untuk menyembunyikan asih. Rusak badan, berkeping jiwa, menabrak etika.... Tinggallah tangis pilu di gundukan tanah merahku.

Bekasi, mulai ngantuk, 29 Januari 2016

Selasa, 12 Januari 2016

Intermezo dan Air Kencing

Intermezo dan Air Kencing

Panas, tapi takada api
Bara kutelan membakar sukma
mendidihlah darah.

"Cemburukah? Ah, takmungkin hanya intermezo, sama seperti iklan bukan tayangan utama." Pikirku untuk mengembalikan logika.
Malam tlah merayap sepi, aku masih enggan beranjak dari kursi hijau yang rela kududuki sejak senja tadi.

Kuraih tasku dan coba untuk tetap terlihat tenang. "Ah, ...sue ...!" Bentakku kembali terduduk dan diam terpaku memandangi tuperware hijau tempat minumku. Rasanya ingin kuberubah menjadi air, diminum, tertelan orang, beredar berputar dalam tubuh. Akhirnya, ceeeeerrrrrr ...keluar melalui uterus berubah warna menjadi kuning atau putih dan menyatu dengan air kotor lainnya di got ketika disiram oleh orang yang kencing.

Blasss.... Lenyap tanpa ada bekas hanya baunya saja. Nanti toh akan diberi pengharum toilet. Bau kencing akan tersamar dengannya.

"Aku yang memulai." Lirihku sambil terus memukul-mukulkan pulpen pada kepalaku.

Seandainya tidak kumulai, mungkin tidak akan kelu di lidah dan tercakar di  laring hingga takmampu kuberkata "PERGI!!" Mengusir sesak di rongga udara. Kembali kucoba beranjak dari dudukku di kursi hijau. Namun, kedua kakiku seakan ikut merasakan api yang berkobar sedari satu jam yang lalu.

Perlahan ... sangat perlahan kubuka pintu dan meninggalkan kursi hijau yang masih hangat bekas kududuki. "Untungnya takkukencingi." Tersenyum kecut kutoleh bangku itu. Taksadar kudorong pintu keras-keras sambil menjerit, taktertahankan.

"AKU MENGUTUK SMUA RASA!"

Bekasi, 12 Januari 2016, pukul 19.25